Until Death Do Us Part - Jonas

Memaparkan catatan dengan label Keratan Akbar Indonesia. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Keratan Akbar Indonesia. Papar semua catatan

Khamis, Mei 28, 2009

#474.Film Bukan Cinta Biasa Berhasil Menembus 500 Ribu Penonton

Meski belum genap tiga bulan beredar di sejumlah bioskop di seluruh Indonesia, film bernuansa dakwah remaja berjudul Bukan Cinta Biasa sudah meraih prestasi luar biasa, yakni menembus angka 500 ribu penonton. Kini film tersebut sedang diputar di Eropa pada ajang Festival Film Cannes di Prancis.Film garapan sutradara Benny Setiawan yang bercerita tentang perjuangan seorang anak gadis yang ingin menginsafkan sang ayah berperilaku playboy dan pemabuk itu ditonton banyak kalangan pelajar dan mahasiswa.

Produser Bukan Cinta Biasa, Naldy NH, mengatakan, selain di Jakarta, film ini menyedot banyak penonton di sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan daerah lainnya."Ketika film ini akan diluncurkan di hadapan wartawan, terus terang saya sempat stres karena takut film ini dikritik habis, bahkan mungkin dicaci maki. Tapi ternyata tidak. Bahkan, para wartawan memuji film ini. Alhamdulillah," ujar Naldy kepada Suara Karya.

Film Bukan Cinta Biasa dianggap sebagai film berkualitas dan layak dikirim ke Festival Film Cannes, Prancis, karena memiliki banyak keunnggulan. Di samping akting para pemainnya yang bagus, film ini juga didukung oleh cerita dan penggarapan sang sutradara yang sangat teliti dan tidak sembarangan. "Bahkan, saya sebagai produser pun ikut mengawasi sampai masalah make up," ujar Naldy.

Film Bukan Cinta Biasa hadir di tengah maraknya film bergenre horor yang ditonton banyak orang. Namun, film yang dibintangi Ferdy Taher yang personel kelompok musik Element, Wulan Guritno, Olivia Jensen Lubis, Joe Projeck P, dan sejumlah pemain lainnya ini mampu menyedot penonton dalam jumlah signifikan.

"Sejak awal saya memang tidak ingin membuat film yang sama dengan tren film yang ada sekarang, horor misalnya. Karena itu, saya membuat film remaja. Tapi, alhamdulillah, penontonnya banyak," kata Naldy lagi.

Film yang memilih Bandung sebagai lokasi syuting ini bertutur tentang seorang gadis bernama Nikita (Olivia Jensen) yang kedua orangtuanya, Tommy (Ferdy Taher) yang berprofesi sebagai musikus rock dan ibunya, Lintang (Wulan Guritno), berpisah lantaran sang ayah terlalu suka kepada banyak wanita alias playboy dan suka mabuk-mabukan.

Namun, meski kedua orangtuanya bercerai, Nikita tidak kemudian menjadi anak gadis yang broken home. Ia bahkan bisa menjaga diri dari sikap remaja pria yang mencoba memperlakukannya seperti wanita murahan.

Untuk menunjukkan film ini bermuatan edukasi, Benny Setiawan, sang sutradara, memasukkan adegan Nikita yang menampar pacarnya, Bred, karena ia mencoba mencium pipi gadis itu. Nikita menampar sekali lagi karena Bred berusaha memegang tangannya. "Kamu bukan muhrim," katanya.

Pada adegan berikutnya, Tommy yang memergoki Bred yang tengah memegang tangan putrinya, Nikita, di ruang tamu rumah mereka langsung mematahkan tangan Bred sehingga tangan Bred harus digips.

Bagi sementara pihak, adegan seperti ini mungkin terlalu konservatif. Pacar mau mencium kok ditampar, mau pegang tangan juga ditampar. Begitu pula dengan sikap Tommy yang mematahkan tangan Bred yang mengelus-elus tangan Nikita dengan alasan ingin melihat garis tangannya. Namun, apabila dilihat lebih jauh, adegan ini sangat bernuansa dakwah dan bernilai pendidikan yang amat tinggi.

Seorang anak gadis yang baik dan menjaga harga dirinya tidak akan membiarkan tangan laki-laki sembarangan memegang atau menciumnya. Inilah contoh positif yang dipesankan dalam film Bukan Cinta Biasa. (Kartoyo DS)


Sumber : SuaraKarya Online [28/05/2009]

Baca Sepenuhnya...

#473. Film Indonesia Menang di Polandia

LONDON--Film Indonesia karya Haryo Sentanu Murti berjudul "Cerita dan Cita Rehabilitasi Berbasis Masyarakat" berada di peringkat pertama dari 18 film peserta festival kategori "Award of Distinction" dalam Festival Film dan Multimedia Katolik ke-24 di Niepokalanow, Polandia.Juru bicara KBRI Warsawa Any Muryani kepada koresponden ANTARA London, Rabu, mengatakan pengumuman itu disampaikan dewan juri setelah menilai keunggulan film yang diproduksi Studio Audio Visual Puskat dari kota Yogyakarta tersebut.

Film itu menceritakan tentang semangat solidaritas dari gereja Katholik untuk kaum miskin dan yang tertindas.Menurut Any Muryani, lebih dari 179 film, 47 program radio, 35 program multimedia dari 21 negara, menjadi peserta festival tersebut."Persaingan berlangsung ketat", ujar Ketua Juri Jan Szafraniec, Rektor Bogdan Janski College.Selama tiga hari dari kegiatan festival, penonton mempunyai kesempatan melihat 18 film yang mendapat penghargaan. Kategori karya dalam festival itu meliputi film, program TV, animasi, dokumenter, dan amatir.

Menurut Any, karena banyaknya film yang diikutsertakan dalam festival, penyelenggara dari Asosiasi Film Katholik memutuskan memberikan tambahan penghargaan bagi film-film dari Indonesia, Kroasia, Italia, Polandia, Kanada, dan Spanyol.

"Film Indonesia unggul karena menampilkan semangat solidaritas yang ditunjukkan dalam program CBR (community-based rehabilitation) ", kata Any Muryani mengutip penjelasan panitia.

Menurut dia, festival tersebut membuka semua kesempatan bagi pengarang, penulis cerita dan sutradara mempresentasikan dan mempromosikan hasil karyanya seperti film yang menyentuh masalah aktual seperti aborsi, narkotika.

Sebelumnya, film Indonesia yang mendapat penghargaan pada festival tersebut pada tahun 2006 lewat "Kasih yang Tak Henti Mengalir" karya Isti Purwi Tyas Utami.

Any yang juga kepala Pensosbud KBRI Warsawa, pihaknya telah menerima Piagam dari panitia dan segera mengirimkannya ke Haryo Sentanu Murti, sutradara film tersebut. "Panitia berharap Indonesia dapat tampil kembali dalam festival berikutnya yang akan diselenggarakan pada Mei 2010", kata Any Muryany.ant/kem

Sumber : republika.co.id
By Republika Newsroom
Rabu, 20 Mei 2009 pukul 08:11:00

Baca Sepenuhnya...

#472. LSF: Masyarakat masih belum Paham terhadap Sensor

YOGYAKARTA -- Masyarakat Indonesia dinilai masih belum memahami mekanisme sensor yang dilakukan oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Ini membuat LSF selalu berada pada posisi yang sulit. ''Selama ini kalau guntingnya terlalu tajam nanti dimarahin. Tetapi kalau tidak digunting kita juga kena marah,'' kata Nunus Supardi, wakil ketua LSF, dalam diskusi forum kemitraan yang digelar di Yogyakarta, Sabtu (23/5).

Munculnya indikasi ini, kata Nunus, semakin jelas terlihat dari persidangan judicial review yang pernah dilakukan terhadap keberadaan LSF di Mahkamah Konstitusi. Gugatan tersebut dilakukan oleh sekelompok sineas yang menginginkan peran LSF ditiadakan. ''Tetapi pada saat sekarang LSF tetap menjadi sebuah lembaga yang masih diperlukan dan itu sudah diperkuat lewat (keputusan) MK,'' kata Nunus. ''Memang yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana lembaga ini bisa meningkatkan lagi kinerjanya,'' sambungnya.

HM Johan Tjasmadi, anggota LSF, menegaskan bahwa lembaga sensor harus bisa menempatkan perannya seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI). ''Perang atau tidak, TNI itukan tetap dibutuhkan. Begitu juga dengan LSF, jika tidak ada maka akan bisa kacau,'' ujarnya.

Johan membenarkan pemahaman yang masih minim membuat keputusan LSF kerap kali menimbulkan perdebatan. ''Yang muda inginnya tidak perlu ada sensor. Tetapi ulama inginnya sebanyak-banyaknya menyensor. Di sinilah yang selalu membuat kami berada dalam posisi yang serba salah. Tetapi bagaimanapun peran LSF itu tetap harus dijalankan,'' kata dia.

Johan juga menyampaikan dalam era informasi teknologi seperti sekarang LSF berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. ''Tetapi bagaimanapun LSF juga wajib berpegangan teguh serta menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia.''

Sebelum memulai diskusi, terlebih dahulu diputar film Perempuan Berkalung Sorban. Film yang pernah menuai kontroversi ini kembali lagi memunculkan pro kontra dari berbagai kalangan yang hadir. Salah satunya disampaikan oleh perwakilan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yogyakarta. ''Film ini masih kurang melakukan riset,'' ujarnya.

Namun Chand Parwez Servia, produser film Perempuan Berkalung Sorban, menilai pro kontra terhadap filmnya menjadi masukan penting. ''Yang pasti kami juga telah berusaha melakukan yang terbaik tanpa pernah ada maksud untuk menyakiti,'' katanya.

Sementara itu sosialisasi kegiatan LSF ini dijadwalkan juga menyambangi sejumlah kota besar di Indonesia. Selain Yogyakarta, LSF akan datang ke Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bandung, dan Surabaya.

Dari diskusi di Yogakarta, Nunus menyebutkan salah satu point dirumuskan adalah LSF, KPI, dan pihak terkait supaya menysun pedoman penyidikan yang proporsional dalam mengatasi pelanggaran. ''Selain itu memperlancar komunikasi antar LSF, KPI, produser, pemerintah, sineas dan tokoh agama demi terciptanya kesepahaman,'' kata Nunus. akb/kpo

Sumber : Republika.co.id
By Republika Newsroom
Minggu, 24 Mei 2009 pukul 04:37:00

Baca Sepenuhnya...

#471.'Malena' dari Kampung Pulo Bantal

TEMPO Interaktif, Jakarta: "Subhanallah!" Begitulah reaksi spontan para lelaki di Kampung Pulo Bantal kala melirik sang janda kembang, Asih alias Selasih (diperankan oleh Luna Maya). Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya mulus, dan wajahnya cantik. Asih, begitu panggilannya.Karena butuh uang untuk biaya hidup, janda sebatang kara ini menjadi biduanita dangdut pada Dodirama Band, kelompok band kampung asuhan Dodi Rama (Agus Ringgo). Penampilan Asih yang memukau sukses menggeser posisi idola panggung terdahulu, Yuli Nada (Sarah Sechan), yang juga istri Dodi.

Di film berjudul Janda Kembang itu, bukan cuma Dodi yang bergerilya agar mendapatkan cinta Asih. Calon lurah Pulo Bantal, Dewa Sampurna (Joe "Project Pop"), pun tak ragu merogoh koceknya dalam-dalam untuk tujuan yang sama. "Saya kontrak Asih untuk tiga kali kampanye terakhir," kata Dewa. Ia tengah berkampanye dalam pemilihan kepala desa.

Demam Asih pun menjangkiti Radja (Rifat Sungkar) dan Fadli (Esa Sigit), sepasang sahabat yang masih bau kencur. Belum juga tamat bangku SMP, mereka bersaing mendapatkan sang janda kembang. Asih juga bikin ibu-ibu bete karena takut suami-suami mereka kecantol Asih.

Di film ini, Luna tak banyak berdialog. Ia lebih banyak berakting dengan mimik wajah sedih, senang, dan tertekan. Asih digambarkan sebagai sosok yang pasrah pada keadaan dan tidak berusaha melawan meskipun keadaan itu begitu menekannya.

Penampilan Luna di film ini biasa saja, tidak cemerlang. Justru yang terlihat bermain total adalah Sarah Sechan. Dari sekian banyak pemain yang memerankan orang Sunda, hanya lakon Yuli yang meyakinkan.

Kehadiran film besutan sineas baru Lakonde itu mengingatkan kita kepada film Eropa berjudul Malena (2000). Film yang dibintangi si seksi Monica Bellucci ini berkisah tentang janda korban perang di Italia pada 1940 yang digilai para lelaki sebuah kota. Si janda dituding sebagai pelacur, yang akhirnya melacurkan diri agar tetap hidup.

Meski Asih tak jadi pelacur, tak pelak banyak kemiripan dengan Malena, dari Asih yang digilai anak kecil (Fadli dan Radja), cara bertutur lewat adegan kala Asih berjalan lalu semua mata tertuju kepadanya dan banyak yang mengikuti, sering diintip Fadli, hingga bagian penutup yang menjelaskan siapa sosok Malena Indonesia ini.

Sebetulnya, sosok janda kembang sebenarnya kurang cocok dilakoni oleh figur seperti Luna, yang kental betul ciri metropolitannya. Janda kembang umumnya identik dengan perawakan bahenol dengan wajah eksotik. Namun, lain urusan jika memang yang dicari adalah sosok yang mirip Monica Bellucci dalam Malena.

Film ini juga diwarnai dengan musik, yakni dangdut. Tampaknya Starvision ingin mengulang strategi bisnisnya kala meluncurkan film Heart dan Get Married. Dua soundtrack film ini cemerlang karena mengusung penyanyi baru, Acha Septriasa dan Irwansyah, serta Nirina Zubir, yang mendompleng Slank.

"Saya (memang) ingin memunculkan sosok penyanyi baru," kata Chand Parwez, bos Starvision. Maka muncullah sebuah album soundtrack Janda Kembang yang antara lain diisi suara standar Luna dalam lagu Suara (dipopulerkan Hijau Daun) dengan versi dangdut dan Agus Ringgo pada lagu dangdut Gokil karya Candil dalam kemasan Dodirama Band.

AGUSLIA HIDAYAH
Judul : Janda Kembang
Genre : drama komedi
Sutradara : Lakonde
Produser : Chand Parwez
Pemain : Luna Maya, Ringgo Agus Rahman, Sarah Sechan, Esa Sigit, Rifat Sungkar

Sumber : Tempointeraktif.com [Kamis, 14 Mei 2009 | 09:41 WIB]

Baca Sepenuhnya...

Jumaat, Mei 22, 2009

#456. Bukan Cinta Biasa [2009]

KapanLagi.com - Pemain: Ferdy Element, Wulan Guritno, Olivia Lubis Jensen, Afgan Syah Reza, Julia Perez, Rocky.Jika selama ini peta perfilman Indonesia sebagian besar didominasi dengan film horor dan film komedi dewasa, namun hal ini mulai bergeser. Benni Setiawan hadir memberikan alternatif tontonan lain lewat BUKAN CINTA BIASA.

Kisah berawal dengan cerita kehidupan Nikita (Olivia Lubis Jensen) yang hanya tinggal berdua dengan sang ibu, Lintang (Wulan Guritno). Tanpa sengaja, Nikita menemukan kenyataan ayahnya, Tommy (Ferdy Element) ternyata masih hidup.Tommy sendiri adalah seorang bintang rock, yang kehidupannya kurang teratur, urakan dan senang 'main' perempuan. Angel (Julia Perez) adalah salah satu korban 'permainan' Tommy.

Kerinduan Nikita akan sosok ayah akhirnya dapat terpenuhi. Lintang yang harus berangkat ke luar negeri, akhirnya dengan terpaksa menitipkan Nikita pada Tommy. Di sinilah awal mula kisah antara ayah dan anak yang tak pernah bertemu selama belasan tahun bermula.

Tommy yang selama ini bisa bersikap seenaknya di rumahnya, namun semenjak kedatangan Nikita di rumahnya, ia harus mengubah sebagian besar kebiasaannya. Karena Nikita menerapkan beberapa aturan di rumahnya. Dari aturan berhenti merokok, minum minuman keras, hingga melarang ayahnya membawa teman wanitanya ke dalam kamar.

BUKAN CINTA BIASA ingin menawarkan sebuah persepsi yang berbeda tentang hubungan anak dan orang tua. Jika selama ini persepsi yang ada adalah orang tua yang membimbing anak, namun di BUKAN CINTA BIASA menggambarkan kadang anak bisa jadi lebih baik daripada orang tua.

Benni dengan cerdas membidik segmen drama keluarga yang sarat pesan moral namun tidak berat untuk ditonton. Di film ini, Benni menyuguhkan unsur komedi yang benar-benar menghibur. Alhasil, BUKAN CINTA BIASA menjadi film yang berisi dengan kemasan yang tidak membosankan.

Meski sempat kedodoran di sinematografi, namun hal ini sedikit tertutupi dengan akting Wulan yang maksimal dan lagu Bukan Cinta Biasa yang dinyanyikan oleh Afgan. Namun keberanian untuk menyuguhkan sesuatu yang lain dunia film Indonesia patut diacungi jempol. (kpl/riz)

Sumber : Kapanlagi.com [10/05/2009]

Baca Sepenuhnya...

#455. Festival Film Purbalingga Dimulai

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Setidaknya tiga film independen mulai diputar sebagai pembuka Purbalingga Film Festival (PFF) 2009, yang digelar di Hotel Kencana dan Rumah Makan Nony, Purbalingga, pada Kamis (21/5) malam. Festival film independen yang untuk ketiga kalinya itu akan diselenggarakan sampai hari Sabtu besok atau tanggal 23 Mei.Selama festival berlangsung, ada 39 film yang akan diputar secara maraton di aula pertemuan Hotel Kencana dan Rumah Makan Nony. Setiap film yang berdurasi antara tiga menit sampai 30 menit itu dapat disaksikan oleh masyarakat umum dengan gratis.

Dari 39 film independen yang diputar dalam festival itu, 16 film di antaranya adalah hasil karya siswa SMP maupun SMA di wilayah eks Karesidenan Banyumas, yakni Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap. Masing-masing memiliki tema cerita yang sangat beragam, mulai dari masalah sosial, kehidupan sehari-hari, problem remaja, hingga masalah keluarga.

Film independen selebihnya datang dari Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Perancis. Umumnya film-film itu telah diputar di beberapa daerah dan sudah cukup dikenal di kalangan kreator maupun pencinta film independen.

Film-film dari luar daerah itu terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama film produksi tahun 2002 sebanyak empat film, yaitu Ketemu Bapak garapan sineas Yogyakarta Yosef Anggi Noen, El Meler garapan sineas Jakarta Dennis Adhiswara, Di Antara Masa Lalu dan Masa Sekarang karya sineas Yogyakarta Eddie Cahyono, dan Eva Kenapa Rumahmu Jauh karya Koperasi Film Yogyakarta.

Kelompok kedua adalah film-film bertema pencarian rasa kebangsaan yang diberi judul tema "Cari Bangsa Cari Rasa", sebanyak lima film. Film-film itu adalah Pemburu Minyak, Sugiharti Halim, Ganco Cola, Anak-anak Lumpur, dan Indonesia Bukan Negara Islam. Hanya Sugiharti Halim yang hasil karya sineas Bandung, sedangkan selebihnya adalah karya sineas Jakarta.

Kelompok ketiga adalah film-film bertema anak-anak yang diberi nama tema "Dunia Kuncung", dan akan diputar di aula Rumah Makan Nony. Film-film itu di antaranya Free, Petualangan Penthal Penthol, Kuat-Kuatan, Ketemu Bapak, dan El Meler.

Bersama film bertema anak-anak itu juga akan diputar delapan film animasi dari Perancis yang dipersembahkan oleh Pusat Kebudayaan Perancis. Film-film itu berjudul Concrete, The Colonial Friend , The March of The Nameless, Bob, The Crease, The Process, Daily Schedule, dan Dynamo.

Menurut Direktur PFF 2009 Bowo Leksono, setiap pemutaran film dalam festival kali ini juga akan dibagi atas sasaran usia penonton. Tidak semua film dapat disaksikan oleh anak-anak hingga orangtua. Karenanya, pemutaran film dikelompokkan untuk semua usia dan di atas 15 tahun.

"Kami tidak ingin anak-anak menonton film yang tidak sesuai dengan usianya. Makanya petugas penjaga pintu ruang an pemutaran film akan bertindak tegas. Jika kebetulan film yang diputar untuk usia 15 tahun ke atas dan ada anak-anak, anak itu tetap tidak boleh masuk," katanya.

Dalam festival film itu hadir para sineas film independen yang cukup berpengalaman, seperti Lulu Ratna. Hadir pula puluhan sineas film independen dari Yogyakarta dan Solo.

Sumber : Kompas.com [23/05/2009]
Laporan wartawan KOMPAS Madina Nusrat

Baca Sepenuhnya...

#454. Mengenal Budaya Indonesia-Amerika Lewat Film

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemutaran film dokumenter Amerikaku yang berlangsung di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, West Mall Lt 8, Selasa malam, diminati banyak pengunjung, terutama para alumni Amerika maupun mereka yang pernah magang di negeri Paman Sam itu.Sebagian besar undangan yang hadir mengaku ingin melihat kembali potret budaya Amerika, terutama dalam hal penghargaan mereka terhadap masyarakat Indonesia yang tinggal di negara adikuasa itu."Orang-orang Amerika sebetulnya sangat menghargai perbedaan sehingga kita sebagai warga Indonesia yang pernah tinggal di Amerika merasa nyaman," kata Jejen Jaenuddin, salah satu alumni University of Washington Seatfle, yang datang ke Blitz Megaplex, Selasa.

Jejen yang kini bekerja di Lembaga Peningkatan dan Jaminan Mutu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu melakukan studi di Amerika tahun 2007-2008 dengan program studi Hubert Humprey Fellowship.

Selama di Amerika ia bergabung bersama komunitas Indonesia yang salah satu kegiatannya adalah bermain sepak bola di Washington. Mereka yang tergabung dalam komunitas tersebut merasa sangat dihargai oleh orang-orang yang sudah lama menetap di Amerika.

"Kebanyakan dari komunitas kami waktu itu adalah mereka yang dipecat dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) yang kemudian bekerja di industri pesawat Boeing di Amerika," katanya.

Dari satu sisi, kata Jejen, orang-orang Indonesia yang tidak mendapat pekerjaan di Indonesia justru di Amerika mereka dihargai, terbukti diterimanya mereka di perusahaan Boeing di negeri Paman Sam itu.

Menurutnya, film dokumenter yang mengangkat cerita anak Indonesia yang sekolah SMA di Amerika tersebut lebih pada pendekatan budaya Amerika terhadap orang-orang Indonesia.

Pemutaran film yang disutradarai Mirwan Suwarso tersebut juga dihadiri Duta Besar Amerika Serikat Cameron R Hume. Sebelum film tersebut diputar, R Hume dan Mirwan Suwarso memberi sambutan atas peluncuran film yang mengisahkan anak-anak Indonesia yang bersekolah di Amerika tersebut.

Setiap tahunnya, Departemen Luar Negeri AS mengundang sekitar 100 siswa sekolah menengah untuk belajar di sekolah-sekolah Amerika melalui program Young Exchange and Study (YES).

Film dokumenter Amerikaku? menampilkan empat siswa yang mengikuti program tersebut dari daerah yang berbeda di Indonesia. Menurut rencana, film yang terdiri dari enam episode tersebut akan disiarkan di televisi nasional pada bulan Juni tahun ini.

Sumber : Kompas.com [20/05/2009]

Baca Sepenuhnya...

#453. Riri Riza Berbagi Cerita "Laskar Pelangi" di Ceko

PRAHA, KOMPAS.com -- Sutradara muda Indonesia Riri Riza mengaku mengagumi sekolah film yang banyak memproduksi film animasi, Filmova Skola Zlin, yang berada di Kota Zlin, 103 km bagian barat Kota Praha yang berbatasan dengan Slovakia."Beda dengan sekolah saya dulu di IKJ," ujar Riri, di sela kehadirannya di sekolah tersebut, dalam rangkaian festival film bertema Retrospektif Film Riri Riza, yang berlangsung di City Library Hall Praha hingga 21 Mei.

Filmova Skola Zlin didirikan tahun 1992 oleh sutradara film Ceko Elmar Klos dan rekannya Jan Kadar. Sekolah ini memanfaatkan studio yang pernah digunakan pembuat film animasi kenamaan dari Ceko, Hermina Tyrlova dan Karel Zeman, yang tercatat menciptakan film klasik seperti Ferda Mravenec (Ferda the Ant), Vzpoura hracek (Revolt of the Toys), Vanocni Sen (The Christmas Dream) dan Cesta do praveku (Journey to Prehistory).

Kehadiran Riri di sekolah tersebut disambut staf pengajar Michael Carrington yang kemudian membawanya berkeliling dan melihat fasilitas sekolah yang berada dalam satu kompleks di daerah tenang dan dikelilingi oleh hutan itu.

Selain memutar film Laskar Pelangi, Riri juga terlibat dalam diskusi yang berlangsung hangat, siswa sekolah film Zlin yang datang dari berbagai negara banyak bertanya mengenai proses permbuatan film dan juga misi yang ada dalam film Laskar Pelangi, termasuk masalah pendanaannya.

Verica Kordic (27), pelajar dari Kroasia mengakui film Laskar Pelanggi membawa pesan kuat dan juga jalan ceritanya sangat mudah dimengerti, apalagi anak-anak yang menjadi bintangnya sangat menghayati peran mereka. "I like the kid," ujar Verika yang tengah belajar film animasi.

Para pelajar di sekolah yang dikenal dengan kota kelahiran pendiri pabrik sepatu Bata, Tomas Bata itu juga bertanya mengenai biaya yang harus dikeluarkan dalam membuat film.

Mereka juga bertanya mengenai aktor anak-anak yang ada dalam film tersebut dan kelanjutan akan nasib mereka, dan juga dampak dari film tersebut terhadap kehidupan mereka selanjutnya.

Riri mengatakan bahwa anak-anak pemain film Laskar Pelangi merupakan bocah yang memang tinggal di pulau, Belitong, yang menjadi setting garapan filmnya tersebut. "Mereka bukan artis," ujar Riri dan menambahkan bahwa anak-anak usai pembuatan film mereka kembali ke kehidupan semula.

Memang sejumlah artis ada yang mendapat perlakuan lebih, dan bahkan mereka sempat diterima Presiden RI yang kemudian memberikan hadiah komputer untuk setiap anak. "Sayang ada di antara anak yang belum terlayani aliran listrik di rumahnya," ujarnya

Sementara itu, Michael Carrington mengatakan bahwa film Laskar Pelanggi memiliki energi positif yang memperlihatkan budaya Indonesia di dalamnya. "Saya telah menyaksikan film tersebut," ujar Michael yang peranakan Inggris-Ceko itu.

Dalam kunjungan ke sekolah Zlin tersebut, Riri juga menyaksikan film animasi yang dibuat dengan fasilitas yang dimiliki sekolah yang pernah menerima murid dari Korea dan juga negara lainnya itu.

Kota industri Zlin yang hanya berpenduduk 600 ribu orang, memiliki tradisi budaya sangat kuat dari tiga wilayah yaitu Valassko (Wallachia), Slovacko and Hana yang dikenal dengan tempat berdirinya Kerajaan Sepatu Bata.

Filmova Skola Zlin (Film School Zlin) sebelum didirikan oleh Elmar Klos berkolaborasi dengan Jan Kadar, Klos sutradara film The Shop on Main Street (Obchod na korze), yang meraih Academy Award for Best Foreign Language Film in 1965, sebenarnya sudah ada di Slovakia sejak PD II.

Sekolah film Zlin yang satu kompleks dengan studio film yang memproduksi iklan untuk pengusaha Tomas Batas menjadi pusat produksi film animasi anak-anak sejak 70 tahun, terakhir telah memproduksi lebih dari 2.000 film di studio Zlin.

Menurut Michael, saat ini pelajar sekolah film Zlin mengunakan studio yang pernah digunakan pembuat film animasi dari Ceko yang terkenal, Hermina Tyrlova dan Karel Zeman, yang menciptakan film klasik.

Di Kota Zlin akan digelar festival film "49th International Festival for Children and Youth" dari tanggal 31 Mei hingga 7 Juni mendatang, yang diikuti berbagai negara. "Saya harap Riri bisa ikut dalam festival film ini tahun depan dalam rangka memperingati 50 tahun penyelenggaraan festival," harap Michael Carrington.

Sumber : Kompas.com

Baca Sepenuhnya...

#452. 'Virgin 2: Bukan Film Porno' Susul Sukses 'Virgin'

Jakarta - Dengan tagline Ketika Keperawanan Dipertanyakan, film 'Virgin' meraih sukses pada 2004 lalu. Kini setelah lima tahun berlalu, 'Virgin 2' dirilis. Dengan tagline Bukan Film Porno, 'Virgin 2' berharap sesukses 'Virgin.''Virgin 2' dirilis masih di bawah bendera Starvision sebagai rumah produksi. Produser film tersebut Chand Parwez merilis film tersebut bukan karena alasan mencari keuntungan semata.

"Kita butuh sebuah ilustrari untuk mengantisipasi sebuah persoalan yang makin marak belakangan ini, traficking, pelacuran remaja di bawah umur, remaja dijebak ke dalam narkoba," urai Parwez saat berbincang dengan detikhot melalui telepon Rabu (20/5/2009).Menurut Parwez, dalam film tersebut memang tergambar segala persoalan yang disebutkannya di atas. Namun kemudian akan ada sebuah solusi yang memperlihatkan kalau kasih sayang dalam keluarga bisa mencegah remaja terperosok ke dunia hitam.

Parwez berharap 'Virgin 2' tidak menjadi kontroversi seperti Virgin 1. Karena menurutnya dengan film yang dibintangi Joanna Alexandra itu kesadaran masyarakat akan terbuka."Jangan sampai film ini dianggap sebagai sesuatu yang vulgar. Makanya ada tagline Bukan Film Porno, karena tidak ingin dicap sebagai film porno," jelasnya.

Virgin 2 akan rilis di bioskop pada 28 Mei mendatang. Film tersebut disutradarai oleh Nayato Fio Naula.

Sumber :Detik.com

Baca Sepenuhnya...

Selasa, Mei 19, 2009

#446. Laskar Pelangi Awali Festival Film di Praha


Screenshot salah satu adegan Laskar Pelangi [www.laskarpelangithemovie.com]

Praha (ANTARA News)- Film Laskar Pelangi yang menceritakan perjuangan guru dan 10 siswa di Belitong, Bangka Belitung, akan mengawali Festival Film Indonesia 2009 di Praha, Republik Ceko, Selasa malam.

Festival film dengan tema Retrospektif Film Riri Riza, yang berlangsung di City Library Hall Praha hingga tanggal 21 Mei mendatang itu mendapat perhatian dari pemenang Oscar dari Ceko Jiri Menzel, kata Sekretaris Satu KBRI Praha Azis Nurwahyudi kepada koresponden Antara London, Senin.

Menurut Azis, untuk pembukaan acara tersebut, KBRI Praha mengundang pejabat pemerintah, kalangan diplomatik, sineas Ceko, mahasiswa sekolah perfilman, dan publik.Acara pembukaan festival film Indonesia dilangsungkan diskusi dengan Riri Riza mengenai perfilman Indonesia dan karya-karyanya yang juga akan diikuti Jiri Menzel.

Azis mengatakan film karya Riri Riza ini mendapat perhatian khusus pemenang Oscar dari Ceko, Jiri Menzel yang menyatakan rasa bangga dan hormat karena menjadi patron Festival Film Indonesia 2009.

Dukungan Jiri Menzel, sutradara kenamaan peraih Oscar dalam film Closely Watched Trains (Ostre sledovane vlaky), diberikan kepada Riri Riza setelah melihat film karya sutradara muda tersebut yang dinilainya memberikan ajaran nilai-nilai yang positif.

Menzel juga menilai pantas jika film Laskar Pelangi mendapat banyak penghargaan karena memang film tersebut menarik dan terbukti ditonton jutaan orang.

Duta Besar RI untuk Republik Ceko, Salim Said, yang mencetuskan ide festival film sebagai salah satu diplomasi budaya di negara yang dulu bernama Cekoslawakia itu menyatakan bahwa Festival Film Indonesia digelar untuk yang ketiga kalinya oleh KBRI Praha.

Kali ini festival film ini mengambil tema khusus perjalanan film Riri Riza yang sudah mendapat pengakuan internasional karena mampu bersaing dengan karya-karya sineas asing, ujar budayawan.

Dubes Salim Said yang juga kritikus film, menjelaskan sejarah dan perkembangan sinematografi Indonesia sejak awal abad kedua puluh, termasuk pembuatan film "Aksi Kalimantan" hasil kerja sama antara Indonesia dan Ceko(slovakia) pada tahun 1962.

Selain itu juga akan digelar kerja sama antara Institut Kesenian Jakarta dengan Akademi Seni Ceko, yang mancakup kerja sama bidang Film dan Teater.

Selain Laskar Pelangi, karya Riri Riza yang akan diputar adalah Gie, Eliana-Eliana, Petualangan Sherina, Untuk Rena dan 3 Hari Untuk Selamanya.

Selain di Praha, film Laskar Pelangi secara khusus akan diputar di Sekolah Film Zlin, karena setiap tahun di kota tersebut diselenggarakan Festival Film Internasional untuk film cerita anak-anak dan remaja. Riri Riza secara khusus telah diundang untuk berdiskusi dengan para siswanya.

Pada festival film kali ini KBRI Praha menggandeng perwakilan Indonesia lainnya di Eropa yakni di Wina, Beograd dan Hamburg.

Pelaksanaan Festival Film Indonesia pada tahun ini juga didukung oleh Direktorat Film Debudpar, Miles Production, Sabila Center for Competitiveness, Kompas Gramedia, Nu Green Tea, Imeco, Binus University dan Jamsostek.

Sumber : Kompas.com
Selasa, 19 Mei 2009 | 00:37 WIB

Baca Sepenuhnya...

#445. "Cabo" Datang Lagi

Pemeran film layar lebar Catatan Si Boy Project 2009,(dari kiri ke kanan) Btari Karlinda, Onky Alexander, dan Didi Petet berpose saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/12).

[JAKARTA] Film Catatan Si Boy (Cabo)yang pernah digandrungi remaja pertengahan era 80-an dan awal 90-an, datang lagi ke layar lebar. Pada tahun 2009 ini, Cabotidak hanya sekadar hadir. Film genre drama percintaan remaja ini hadir dengan konsep cerita yang baru. Cabomenyajikan nostalgia kisah hidup si Boy yang dikenal sebagai seorang playboy.

Film Cabo, harus diakui berhasil menarik perhatian masyarakat, khususnya kawula muda. Sosok pria kaya yang tidak sombong dan memiliki semangat hidup yang tinggi, memang layak menjadi contoh untuk anak-anak muda di tahun 1980-an. Untungnya, semangat si Boy masih melekat di hati penggemarnya. Walhasil, hingga kini sosok si Boy tetap menjadi fenomenal yang sulit dilupakan.

Sutradara John De Rantau, saat ditemui dalam konferensi pers Catatan Si Boy Project 2009 di Hard Rock Café Jakarta, baru-baru ini, mengatakan, film Cabomenjadi inspirasi dalam hidupnya. Untuk itu, John bersedia menjadi sutradara film Cabo, yang rencananya akan bermain di bioskop-bioskop pada pertengahan tahun 2009 ini.

Si Boy adalah pemuda kaya yang patut dijadikan panutan. Ia memang playboy, tetapi semangat hidup Si Boy patut dicontoh. Meskipun kaya, Boy tidak terjerumus dalam pergaulan negatif. Ia mampu mempertahankan prinsip hidupnya, ujar John.

Hadirnya kembai Caboke layar lebar bukan berarti film tersebut hanya mengulang cerita yang pernah ada. John menegaskan, film ini tak ubahnya seperti kelahiran Si Boy kembali ke dunia hiburan. Para penggemar si Boy tidak akan kehilangan karakter asli sang pemain utama. Sebab, film Catatan Si Boy2009akan tetap mempertahankan pemain aslinya.

Proyek film Caboterinspirasi dari buku harian Boy. Buku harian yang menyimpan banyak cerita dan kenangan ini menjadi obyek utama dalam film. Meskipun pernah hadir dalam film televisi, kehadiran Caboproduksi 700 Pictures ini dikemas dalam drama komedi romantis. Inti cerita ada pada buku harian si Boy yang menjadi inspirasi dan panduan dua orang remaja.

Dalam film ini, John mencoba mengolaborasikan aktor dan aktris junior dengan senior. Pemain lama yakni Ongky Alexander (si Boy), Didi Petet (Emon), Meriam Belina, dan Btari Karlinda akan bersanding dengan Ario Bayu serta Carissa Putri. Kehadiran dua pemain muda tersebut akan memberikan warna baru dalam film Catatan Si Boy 2009.

Dikisahkan, Carissa dan Ario menemukan buku harian si Boy. Lewat buku harian tersebut dua remaja ini menemukan arti hidup. Kisah dan perjalanan si Boy mengarungi hidup, ternyata bisa memberi semangat bagi Carissa dan Ario.

Film ini bukan sekuel atau versi baru Catatan Si Boy. Ongky tetap memerankan si Boy, Didi Petet sebagai Emon. Jadi tidak ada yang ganti pemain atau berubah karakter. Hanya saja, dalam film ini si Boy terlihat lebih matang sesuai dengan umur Ongky yang kepala 40-an, tegas John.

Catatan Si Boy 2009, diharapkan bisa menjadi medium nyata untuk melepas kangen para pengemar sandiwara radio dan film yang pernah tayang di televisi ini. Untuk itu, tokoh si Boy yang dikenal sebagai roh dalam film tidak akan dihilangkan.

Sumber : Koran Indonesia
by : Abimanyu
18 April 2009, 05:15 am

Baca Sepenuhnya...

Layar Reader

Layar Komuniti II

Empunya Diri

Foto saya
Nature Luver, Movie Buff, Bookworm, Photogeek, Bread Krazy,

Layar Frenz I

Layar Subscribe

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL

Subscribe in Bloglines

Layar Frenz II

Layar Community

  ©Layar 2009 Template by Our Blogger Templates

Back to TOP